Articles by "SYIAH"
Showing posts with label SYIAH. Show all posts




(Arrahmah.com) – Iran, negara dengan penganut Syiah terbesar, tidak pernah tercatat dalam buku-buku sejarah manapun sebagai pemenang dalam sebuah peperangan. Ternyata hal ini telah dikabarkan kepada kita jauh-jauh hari oleh Rasulullah ﷺ melalui sabdanya.
Rasulullah pernah menyampaikan bahwasanya tidak akan mungkin ada kemenangan utuh bagi Iran. Maka sampai saat ini, tidak ada peperangan manapun yang dipimpin oleh Iran.
Terkait hal ini, da’i muda yang gencar membongkar kesesatan dan kekufuran Syiah, Ustadz Muhammad Abdurrahman Al Amiry, kembali menyampaikan pemikirannya kepada kaum Muslimin Indonesia mengenai peran Iran dalam menghancurkan kaum Muslimin.
Da’i yang dikenal dengan sapaan Abu Umar Al Amiry ini juga menegaskan bahwa Iran berada dibalik orang-orang tertentu dalam menghancurkan kaum Muslimin Indonesia. Menurutnya, orang-orang itu memang belum terlihat oleh sebagian orang, namun orang-orang cerdas akan melihatnya.

Baca artikel  selengkapnya di HARI KARBALA tafhadol

Bagaimana Iran yang tak pernah menang perang itu berupaya menghancurkan kaum Muslimin? Berikut tausiyah yang disampaikan oleh Ustadz Muhammad Abdurrahman Al Amiry dalam situs alamiry.net pada Rabu (4/11/2015) tersebut.
***
Mari berpikir…
Iran tidak pernah tercatat dalam buku-buku sejarah manapun sebagai pemenang dalam sebuah peperangan
Mengapa?
Karena Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah mendoakan kehancuran untuk raja manapun kecuali Raja Persia.
Beliau bersabda:
اللهم مزق ملكه
“Ya Allah, robekkanlah Kerajaan Persia.” (HR. Baihaqi)
Ketika Raja Persia telah runtuh, maka tidak akan ada Raja Persia selanjutnya.
Rasulullah bersabda:
Laporkan iklan tak layak ⤴
إِذَا هَلَكَ كِسْرَى فَلاَ كِسْرَى بَعْدَهُ
“Jika Raja Persia telah runtuh, maka tidak akan mungkin ada Kerajaan Persia selanjutnya.” (HR. Bukhari Muslim)
Lihat, Nabi ﷺ telah memberi kabar untuk kita di jauh-jauh hari bahwasanya tidak akan mungkin ada kemenangan utuh bagi Iran.
Maka sampai saat ini, tidak ada peperangan manapun yang dipimpin oleh Iran, bahwa mereka akan menang, tidak akan ada…
Lantas bagaimana Iran menghancurkan Ummat Islam?
Iran memiliki cara lain, mereka tahu, bahwa mereka tidak akan menang dalam peperangan jika mereka yang memimpin peperangan tersebut, karena telah ada kabar dari Rasulullah akan hal itu.
Maka mereka memerangi kaum Muslimin dari belakang…
Lihat, peperangan di Suriah. Iran ikut menghancurkan kaum Muslimin dari belakang Nushairiyyah yang dipimpin oleh Bashar Asad…
Lihat, di Libanon. Iran ikut menghancurkan kaum Muslimin dari belakang “Hizbullah” yang dipimpin oleh Hasan Nasrullah…
Lihat peperangan di Yaman. Iran ikut menghancurkan kaum Muslimin dari belakang Hutsiyyah…
Apa yang ingin dipetik dari penggalan singkat ini?
Saya ingin memberikan sebuah pikiran untuk kaum Muslimin, bahwa:
“Begitu pula dengan Indonesia. Iran berada di balik orang-orang tertentu dalam menghancurkan kaum Muslimin Indonesia. Mereka memang belum terlihat oleh sebagian orang, namun orang-orang cerdas akan melihatnya.”
Sehingga kalau kaum Muslimin Indonesia ingin mencari keamanan melalui Iran, maka bergembiralah bahwa mereka sudah menyalakan bom waktu yang akan menghancurkan mereka sendiri…
(banan/arrahmah.com)
- See more at: https://www.arrahmah.com/kajian-islam/mukjizat-sabda-rasulullah-iran-tak-pernah-menang-perang.html#sthash.F0doNfsI.dpuf

ormas islam jabarAntiLiberalNews | Kiblat – Sejumlah ormas Islam berkumpul di Kota Bandung, mereka bersepakat untuk menolak gerakan Syiah di Jawa Barat. Pertemuan antar ormas Islam itu diselenggarakan di Mesjid Al Fajr, Cijagra, Kota Bandung (9/11).
Mereka menghasilkan  kesepakatan bahwa bukan saja menolak kegiatan acara yang digelar kelompok Syiah saja melainkan mereka pun menolak ajaran tersebut karena selain sesat juga mereka telah menginjak-injak ajaran agama Islam yang ada.
KH Athian Ali, sebagai Ketua FUUI menegaskan telah sejak lama perkembangan Syiah khususnya di Kota Bandung telah ada. Banyak tokohnya awalnya tak mengakui kalau dirinya Syiah. Barulah beberapa tahun terakhir mereka mau terbuka kalau mereka itu dirinya Syiah.
“Persoalannya jangan sampai kita menolak mereka tetapi justeru menjadi senjata untuk melawan kita. Kita tetap harus menghormati koridor hukum yang ada di negeri ini. Kita tak bisa menghakimi mereka. Maka dari itu kita serahkan kepada aparat dan Pemerintah untuk menyelesaikan masalah ini.” tambah Ustad Athian, seperti dikutip dari Warta Islam.
Ia pun menegaskan bila aliran sesat yang lain itu masih ada kecenderungan mengakui al Quran tetapi justeru Syiah ini malah tidak mengakui al Quran bahkan menghinada para sahabat Nabi yang ada. Dalam pandangannya, inilah bahayanya apalagi di negeri ini banyak masyarakat yang tidak memahami agama secara utuh sehingga dengan mudah menerima ajaran tersebut padahal sesungguhnya sesat yang dan menyesatkan.
“Maka dari itu acara TV7 yang mengupas tuntas tentang kesesatan Syiah saya mendukung sekali, dan tentu saja kesesatan Syiah harus diketahui oleh umat islam,” tegas Athian.
“Semua yang hadir sepakat dan meminta aparat kepolisian untuk tidak memberit izin kegiatan agar tidak timbul konflik dan ormas Islam sepakat bila mereka diberi ziin dan tetap melaksanakan maka ormas Islam akan berusaha menghentikan kegiatan tersebut. Kami minta kepentingan kaum mayoritas di hormati dan kaum minoritas yang justeru merusak Islam, tolong mengerti dan memahami hal ini. Jangan sampai memancing kami untuk melakukan sesuatu di luar kemampuan kami,” tegas Sekretaris Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Jawa Barat, Ustad Roinnul Balad dalam pertemuan yangdigelar di jalan Pungkur Kota Bandung (8/11)
Tidak hanya forum DKM saja yang melakukan pertemuan itu. Namun sekitar 15 ormas Islam yang terdiri dari FUUI, DDII Jabar, DDII Kota Bandung, Pemuda Persis Jabar, Kodas, Gardah, Gempa, LUI, Kupas, IHMI, Hasmi, HTI Jawa Barat, AK 12, Gapas, dan ADI, mereka sepakat untuk menolak gerakan Syiah khususnya di Jabar dan di Indonesia. [sdqfajar]
Red: Randy
Baca artikel  selengkapnya di HARI KARBALA tafhadol

antisyiahAntiLiberalNews – Bertepatan dengan Hari Asyura 10 Muharram 1435 H yang jatuh pada tanggal 14 November 2013. Kelompok Syiah siap merayakan ritual hari Asyura yang  pada tahun ini dilaksanakan di gedung Istana Kana – Jl. Kawaluyaan, Bandung.
Dengan rencana digelarnya acara perayaan hari Asyura tanggal 14 November 2013 esok, forum komunikasi Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) wilayah Kawaluyan, Bandung dan sekitarnya, menyatakan keberatan dan menolak diadakannya acara tersebut di lingkungannya
Forum ini membawahi tujuh masjid di antaranya DKM Masjid  Al-Amanah, DKM Masjid Istikmal, DKM Masjid Sabilul Hudaa, DKM Masjid Al-Hadi, DKM Masjid Al-Amal, DKM Masjid Al-Muhajirin, dan DKM Masjid Al-Hikmah.
Forum Komunikasi masjid ini beralasan berdasarkan kejadian bentrokan antara pemeluk Syiah dengan warga yang terjadi di daerah lain seperti di Sampang- Madura dan Jember, akan terjadi adanya gangguan keamanan serupa, karena gerakan Syiah saat ini sedang menjadi sorotan umat Islam, membuat  kegiatan perayaan yang dilakukan bisa mengundang reaksi negatif, baik dari kalangan warga sendiri maupun umat Islam diluar wilayah Kawaluyaan.

Baca artikel  selengkapnya di HARI KARBALA tafhadol
“Hal ini berpotensi menimbulkan gangguan terhadap ketenteraman masyarakat,” kata koordinator Forum, Suwaedi, dalam keterangannya, seperti dilansir Islampos (11/11/2013)
Dengan diadakannya perayaan Asyura beberapa tahun belakangan ini, telah menimbulkan fitnah bahwa wilayah kami mendapat tuduhan sebagai basis dari gerakan Syiah di Indonesia.
“Tuduhan tersebut bisa menyulitkan posisi kami sebagai pengurus DKM dalam menjalin hubungan dengan masyarakat Islam lainnya,” terang Suwaedi.
Berdasarkan fatwa MUI yang ditetapkan tanggal 7 Maret 1984 tentang Kesesatan Syiah dengan suatu rekomendasi : “Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah seperti tersebut di atas, terutama mengenai perbedaan tentang “Imamah” (pemerintahan)”, Majelis Ulama Indonesia menghimbau kepada umat Islam Indonesia yang berfaham ahlus Sunnah wal Jama’ah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran Syi’ah”.
“Maka sebagai masjid yang berpaham ahlus Sunnah wal Jama’ah, kami menyatakan mengikuti dan patuh terhadap rekomendasi dari MUI tersebut,” pungkasnya
Red : Tommy

Demo anti syiah di jakarta1AntiLiberalNews – Ratusan Ummat Islam melakukan aksi pengepungan pada lokasi  acara Syiah di Balai Samudra Kelapa Gading Jakarta Utara Kamis (14/11).
Akibat desakan Ummat Islam yg ingin membubarkan acara sesat tersebut, jemaat Syiah satu persatu keluar dari area Balai Samudera dengan diangkut Bus. Satu bus dikawal oleh 10 polisi. Sesuai kesepakatan antara Mapolres Jakarta Utara dan pendemo yang meminta pembubaran perayaan Asyura tersebut, acara harus selesai.
Polisi membuat pagar betis menahan umat Islam yang ingin merangsek masuk.
Sesekali, kaum Syiah yang di dalam bus justru keluar dan menantang pendemo. Sebaliknya, umat Islam yang berdemo menantang Syiah untuk duel 1 lawan 1.
IMG_0073
Sebelumnya, Kapolres Jakarta Utara Kombes Pol M Iqbal harus bolak-balik meyakinkan jamaah Syiah agar segera meninggalkan area.
“Saya tanggung jawab. 1 Bus dikawal 10 Brimob,” kata Kapolres.
Usai meyakinkan komunitas Syiah yang di dalam bus, Iqbal juga menekankan kepada pendemo di luar untuk tidak bertindak anarkis.
Dari mobil sound system Ustadz Abu Robbani  Abdullah terus memaparkan bahaya Syiah. Sementara peserta aksi yang lain membagikan fotocopy  selebaran yang telah disiapkan oleh Majelis Mujahidin.
Red: RandyBaca artikel  selengkapnya di HARI KARBALA tafhadol

Syiah-Komunitas-syiah-indonesia-saat-peringatan-hari-asyuro-jpeg.image_AntiLiberalNews – Perayaan hari Asyura penganut agama Syiah yang digelar oleh Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI) se-Jawa Barat batal digelar di tempat semula, yakni di Gedung Istana Kana, Kawaluyaan, Kota Bandung.
Kabag Ops Polrestabes Bandung, AKBP Diki Budiman, menjelaskan, penolakan gelaran Asyura itu berawal dari pihak pengelola gedung dan warga sekitar yang tak memberikan izin.
“Pengelola gedung dan warga (Kawaluyaan) tak memberikan izin. Jadi acaranya dipindahkan ke Al Muthahhari di kawasan Kiaracondong,” jelasnya seperti dikutip Okezone, Kamis (14/11).
Diki menambahkan, lantaran Al Muthahhari adalah kawasan internal dari IJABI maka hal itu tidak memerlukan izin. Meski demikian, pihaknya akan tetap memberikan pengamanan di sekitar lokasi.
Muthahhari adalah yayasan pendidikan yang didirikan oleh Ketua Dewan Syuro IJABI Jalaluddin Rakhmat.
Selain Al Muthahhari, pihaknya juga memberikan pengamanan di Kawaluyaan, tempat acara semula. Hal itu dilakukan agar para jamaah yang terlanjur datang dan tidak tahu tempat acara dipindah bisa terbantu.
“Di Kiaracondong kami tempatkan 500 personel. Untuk di Kawaluyaan kami juga tempatkan personel, siapa tahu ada jamaah yang tidak tahu tempat telah dipindah,” terangnya.
Bila dalam acara ada penolakan dari warga atau ormas, maka pihaknya akan melakukan penyekatan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Dari data kepolisian, acara Asyura itu akan dihadiri sekitar 5.000 penganut Agama Syiah dari berbagai daerah.
Baca artikel  selengkapnya di HARI KARBALA tafhadol

IMG_0083AntiLiberalNews – Kapolres Jakarta Utara, Kombes M Iqbal sebagai mediator meminta agar orator Aksi tidak melaknat Syiah. Para Orator melakukan orasi melalui mobil sound system.
Permintaan Kapolres Jakarta Utara itu atas desakan orang syiah. Permintaan itu disampaikan kepada  ratusan Ummat Islam yang melakukan aksi pengepungan pada lokasi acara Syiah. Acara itu berlangsung di Balai Samudra Kelapa Gading Jakarta Utara, Kamis (14/11).
Gerobolan Syiah yang berangsur-angsur pulang meninggalkan Balai Samudera ternyata panas kupingnya. Mereka tidak suka  mendengar para orator dan umat Islam  meneriakkan laknatullah ala Syiah.
Permintaan itu dijawab oleh Ustadz Abu Muhammad Jibriel  dengan enteng. Mereka orang Syiah tidak mau dilaknat, padahal mereka telah mencaci maki menghina dan melaknat Nabi Muhammad shallalahu alaihi wasallam, isterinya, dan para sahabatnya.
“Dan kami tidak melaknat mereka. Kami hanya berdoa semoga Allah Ta’ala melaknat orang Syiah. Laknatullahh ala Syiah,” kata Ustadz Abu Jibriel.
Sebelumnya, dari mobil sound system Ustadz Abu Robbani Abdullah memaparkan bahaya Syiah. Sementara peserta aksi yang lain membagikan fotocopy  selebaran yang telah disiapkan oleh Majelis Mujahidin.
Baca artikel  selengkapnya di HARI KARBALA tafhadol

LDIIAntiLiberalNews – Ketua Departemen Humas DPP Lembaga Dakwah Islamiyah Indonesia (LDII) Joko Haryanto, menilai perayaan Hari Assyuro yang dilakukan kaum Syiah adalah sesat dan sebaiknya tidak digelar karena bertentangan dengan al Qur’an dan Sunnah.
“Kalau tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits, jangan. Kita harus sesuai dengan Quran dan Hadits. Kalau hal itu tidak ada di dalam al-Qur’an, tidak perlu melakukan perayaan seperti itu,” kata Joko Haryanto, seperti dilansir Hidayatullah (14/11/2013)
Joko menyarankan, ketimbang merayakan Asyuro yang boleh jadi menelan biaya yang besar, sebaiknya hal itu lebih baik dialihkan untuk menyantuni masyarakat Indonesia yang mayoritas masih berada di bawah garis kemiskinan dan kelaparan.
Apapun dalihnya, kata Joko, perayaan sesat semacam itu membutuhkan cost yang tidak sedikit. Sehingga jauh lebih baik apabila dana untuk seremoni itu disalurkan kepada anak anak yatim, kaum dhuafa, dan mereka yang tidak mampu.
“Mungkin dari perayaan sesat itu ada yang terhibur, tapi itu hanya sesaat yang tidak memberi arti apa apa untuk pembangunan bangsa,” tandasnya
Baca artikel  selengkapnya di HARI KARBALA tafhadol

DemoFUI_MyanmarAntiLiberalNews – Forum Umat Islam (FUI) melalui Sekretaris Jenderal Muhammad Al-Khaththath meminta kepada Majelis Uama Indonesia (MUI) Pusat untuk segera memanggil tokoh-tokoh Syiah.
“Untuk mengajak mereka bertobat dan ruju’ ilal haq, yakni kembali kepada ajaran Islam yang benar sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah dan bilamana mereka menolak kembali kepada Alquran dan As-Sunnah, kami meminta MUI Pusat menerbitkan Fatwa yang melarang ajaran Syiah di Indonesia,” demikian poin pertama pernyataan sikap FUI, demikian dilansir Hidayatulah (13/11/2013)
Selain itu, FUI juga meminta kepada tokoh-tokoh Syiah untuk tidak melakukan penyebaran ajaran Syiah di tengah-tengah masyarakat Islam Indonesia, apalagi aktivitas-aktivitas yang bersifat demonstratif yang bisa memicu konflik dengan umat Islam.
Pada poin ketiga FUI meminta kepada para aktivis Islam yang menentang aksi-aksi Syiah untuk tidak terpancing oleh kegiatan intelijen yang mendorong terjadinya aksi anarkis yang memperburuk citra umat Islam.
FUI menilai isu Syiah ini berpotensi menjadi sarana adu domba antar sesama Muslim dan aktivis Islam yang dilakukan intelijen. Untuk itu FUI meminta kepada para aktivis Islam agar tidak terpancing.
Pada poin kelima, FUI meminta kepada seluruh ulama, habaib, dan para pimpinan serta aktivis ormas dan gerakan Islam untuk menyatukan barisan dan mempererat jalinan ukhuwah Islamiyyah di dalam perjuangan mewujudkan NKRI Bersyariah
Baca artikel  selengkapnya di HARI KARBALA tafhadol

MUIJatim lagi1AntiLiberalNews | Hidayatullah – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Wilayah Jawa Timur menang mutlak atas gugatan yang Teguh Sugiharto, yang  sejak beberapa waktu lalu menyusun konstruksi gugatan dengan pengajuan prodeo terhadap Presiden SBY, MUI Pusat, MUI Jatim dan Gubernur Jawa Timur.
Sidang putusan dengan kemenangan mutlak untuk MUI Jawa Timur itu diputuskan Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat kemarin, Selasa (13/11/2013.)
“Karena yang punya kewenangan menguji Pergub atau undang-undang adalah Mahkamah Agung, jadi gugatan tidak diterima,” kata pengacara MUI Jawa Timur H. Ma’ruf Syah kepada Hidayatullah.com, Rabu (13/11/2013).
Seperti diketahui, fatwa Majelis Ulama Indonesia Provinsi Jawa Timur No. Kep-01/SKF-MUI/JTM/I/2012 tentang kesesatan ajaran Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah sesat dan Peraturan Gubernur No. 55 Tahun 2012 Tentang Pembinaan Kegiatan Keagamaan dan Pengawasan Aliran Sesat di Jawa Timur mendapat gugatan  Teguh Sugiharto, yang mengaku sebagai perorangan, dan beralamat di Jl. Cikadut Kelurahan Karang Pamulang Kota Bandung dilayangkan kepada bulan 17 Januari 2013 kepada Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Jl. Merpati Blok D-3 No. 5 Kemayoran, Jakarta Pusat. Teguh Sugiharto adalah seorang aktivis demokrasi antipartai yang berdomisili di Bandung.
Sidang perkara fatwa sesat dari MUI Jatim kepada kelompok kepercayaan Syiah ini telah berlangsung sejak bulan Januari awal tahun dan baru selesai kemarin dengan kemenangan mutlak buat MUI.
Kemenangan mutlak pihak MUI tersebut dibenarkan oleh Ma’ruf, karena pertimbangan hukum hakim adalah bahwa kompetensi absolut hakim Pengadilan Negeri tidak punya kewenangan mengadili dan memutus soal fatwa atau Pergub Jatim.
Kandidat Doktor Ilmu Hukum Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya ini mengaku bersyukur atas putusan tersebut.
“Saya bersyukur kepada Allah Ta’ala, dan menyambut positif putusan tersebut. Sehingga bisa jadi yurisprudensi,” terang dia.
Kendati begitu, ia pun menyatakan apresiasinya kepada penggugat dari kelompok Syiah yang menggunakan jalur hukum sebagai proses penyelesaian, sehingga tidak lagi dengan cara cara kekerasan.
“Kita negara hukum, gunakan hukum sebagai proses penyelesaian,” tandasnya.
Rp 1 Milyar per hari
Sebelumnya, Teguh dalam somasinya (sebagai pihak penggugat, red) menuntut lima hal; mendesak pemulangkan seluruh pengungsi Syiah Sampang, meminta mencabut Fatwa MUI Jawa Timur No. Kep-01/SKF-MUI/JTM/I/2012 Tentang Kesesatan Ajaran Syiah, meminta mencabut Peraturan Gubernur No. 55 Tahun 2012 Tentang Pembinaan Kegiatan Keagamaan dan Pengawasan Aliran Sesat di Jawa Timur dan terakhir juga meminta pembubaran Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Ia juga  menuntut  uang paksa (dwangsom) sebesar Rp 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah) per hari pada Gubernur Jatim, Ketua MUI Jatim, KH Abdussomad Buchorydan Ketua Umum MUI Pusat KH. Sahal Mahfudz.
Baca artikel  selengkapnya di HARI KARBALA tafhadol

jatimAntiLiberalNews – Umat Islam di pulau Jawa, khususnya di Jawa Timur, harus segera waspada akan eksisnya gerakan Syiahisasi. Pada Ahad (10/11) kemarin, kaum Syiah di kota Bondowoso sudah berani menyelenggarakan karnaval perayaan Asyuro.
Bahkan mereka sudah berani terang-terangan mengunggah foto hasil dokumentasi ke sebuah grup anti-syiah di jejaring sosial Facebook.
Pengupload ghasil dokumentasi mengaku bahwa parade ini diadakan oleh Yayasan Ash-Shadiq Bondowoso. Bondowoso sendiri merupakan kota yang kecil di Jawa Timur. Bondowoso terletak di wilayah tapal kuda Jatim yang relatif tak semakmur wilayah barat provinsi ini. Nampaknya gerilya misionaris Syiah yang militan justru banyak menyasar di kawasan-kawasan semacam ini. Seperti halnya Sampang yang terletak di Pulau Madura, wilayah Tapal Kuda Jatim memiliki banyak penduduk bersuku Madura
Berikut adalah beberapa foto yang menunjukkan gencarnya misionaris Syiah dalam mengajak orang awam di kantong-kantong Aswaja di Jatim. Meski terlihat dari foto-foto ini dijepret menggunakan kamera ponsel, namun tidak menghilangkan kesan massal dari perayaan Asyuro ini. Tampak di dalamnya wanita dan anak-anak memakai atribut khas Syiah seperti pakaian hitam dan ikat kepala bertuliskan Husain
jatim1
jatim2
jatim3
jatim4
Sumber : Shoutussalam
Red : Tommy

hasyim-asyariAntiLiberalNews | IslamPos –
Oleh: Kholili Hasib
 Kader NU dan Wakil Sekretaris MIUMI Jatim
Sejak didirikan pertama kali pada 31 Januari 1926, NU melalui pendirinya Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari mengeluarkan rambu-rambu peringatan terhadap paham Syi’ah ini. Peringatan tersebut dikeluarkan agar warga NU ke depan hati-hati menyikapi fenomena perpecahan akidah.
Meski pada masa itu aliran Syi’ah belum sepopuler sekarang, akan tetapi Hasyim Asya’ari memberi peringatan kesesatan Syi’ah melalui berbagai karyanya. Antara lain; “Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’, “Risalah Ahlu al-Sunnah wal Jama’ah,al-Nur al-Mubin fi Mahabbati Sayyid al-Mursalin” dan “al-Tibyan fi Nahyi ‘an Muqatha’ah al-Arham wa al-Aqrab wa al-Akhwan”.
Hasyim Asy’ari, dalam kitabnya “Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’” memberi peringatan kepada warga nahdliyyin agar tidak mengikuti paham Syi’ah.
Menurutnya, madzhab Syi’ah Imamiyyah dan Syi’ah Zaidiyyah bukan madzhab sah. Madzhab yang sah untuk diikuti adalah Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali.
Beliau mengatakan: “Di zaman akhir ini tidak ada madzhab yang memenuhi persyaratan kecuali madzhab yang empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali). Adapun madzhab yang lain seperti madzhab Syi’ah Imamiyyah dan Syi’ah Zaidiyyah adalah ahli bid’ah. Sehingga pendapat-pendapatnya tidak boleh diikuti” (Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’, halaman 9).
Syeikh Hasyim Asy’ari mengemukakan alasan mengapa Syi’ah Imamiyyah dan Zaidiyyah termasuk ahli bid’ah yang tidak sah untuk diikuti. Dalam kitab Muqaddimah Qanun Asasi halaman 7 mengecam golongan Syi’ah yang mencaci bahkan mengkafirkan sahabat Nabi SAW.
Mengutip hadis yang ditulis Ibnu Hajar dalam Al-Shawa’iq al-Muhriqah, Syeikh Hasyim Asy’ari menghimbau agar para ulama’ yang memiliki ilmu untuk meluruskan penyimpangan golongan yang mencaci sahabat Nabi SAW itu.
Hadis Nabi SAW yang dikuti itu adalah: “Apabila telah Nampak fitnah dan bid’ah pencacian terhadap sahabatku, maka bagi orang alim harus menampakkan ilmunya. Apabila orang alim tersebut tidak melakukan hal tersebut (menggunakan ilmu untuk meluruskan golongan yang mencaci sahabat) maka baginya laknat Allah, para malaikat dan laknat seluruh manusia”.
Peringatan untuk membentengi akidah umat itu diulangi lagi oleh Syeikh Hasyim dalam pidatonya dalam muktamar pertama Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’, bahwa madzhab yang sah adalah empat madzhab tersebut, warga NU agar berhati-hati menghadapi perkembangan aliran-aliran di luar madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah tersebut.

Baca artikel  selengkapnya di HARI KARBALA tafhadol
Dalam Qanun Asasi itu, Syeikh Hasyim Asy’ari menilai fenomena Syi’ah merupakan fitnah agama yang tidak saja patut diwaspadai, tapi harus diluruskan. Pelurusan akidah itu menurut beliau adalah tugas orang berilmu, jika ulama’ diam tidak meluruskan akidah, maka mereka dilaknat Allah SWT.
Kitab “Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’” sendiri merupakan kitab yang ditulis oleh Syeikh Hasyim Asy’ari, berisi pedoman-pedoman utama dalam menjalankan amanah keorganisasian Nahdlatul Ulama. Peraturan dan tata tertib Jam’iyyah mesti semuanya mengacu kepada kitab tersebut.
Jika Syeikh Hasyim Asy’ari mengangkat isu-isu kesesatan Syi’ah dalam “Muqaddimah Qanun Asasi”, itu berarti persoalan kontroversi Syi’ah dinilai Syeikh Hasyim sebagai persoalan sangat penting untuk diketahui umat Islam Indonesia. Artinya, persoalan Syi’ah menjadi agenda setiap generasi Nahdliyyin untuk diselesaikan sesuai dengan pedoman dalam kitab tersebut.
Sikap tegas juga ditunjukkan Syeikh Hasyim dalam karyanya yang lain. Antara lain dalam “Risalah Ahlu al-Sunnah wal Jama’ah” dan “al-Nur al-Mubin fi Mahabbati Sayyid al-Mursalin” dan “al-Tibyan fi Nahyi ‘an Muqatha’ah al-Arham wa al-Aqrab wa al-Akhwan”, di mana cacian Syi’ah dijawab dengan tuntas oleh Syeikh Hasyim dengan mengutip hadis-hadis Nabi SAW tentang laknat bagi orang yang mencaci sahabatnya.
Hampir setiap halaman dalam kitab “al-Tibyan” tersebut berisi kutipan-kutipan pendapat parra ulama salaf salih tentang keutamaan sahabat dan laknat bagi orang yang mencelanya. Diantara ulama’ yang banyak dikutip adalah Ibnu Hajar al-Asqalani, dan al-Qadli Iyyadl.
Hadis-hadis Nabi SAW yang dikutip dalam dua kitab tersebut antara lain berbunyi:”Janganlah kau menyakiti aku dengan cara menyakiti ‘Aisyah”. “Janganlah kamu caci maki sahabatku. Siapa yang mencaci sahabat mereka, maka dia akan mendapat laknat Allah SAW, para malaikat dan sekalian manusia. Allah tidak akan menerima semua amalnya, baik yang wajib maupun yang sunnah”.
Pandangan yang sama pernah dilontarkan oleh KH. As’ad Syamsul ‘Arifin (alm), kyai kharismatik dari PP. Salafiyyah Syafi’iyyah Situbondo Jawa Timur pada tahun 1985. Saat itu Kyai As’ad diwawancarai Koran Surabaya Pos tentang faham Syi’ah di Jawa Timur. Kyai yang disegani oleh warga nadliyyin itu menampakkan sikap tegas, menurutnya kelompok Syi’ah ekstrem harus dihentikan di Indonesia. Agar tidak meluas gerakannya, Kyai As’ad mengimbau umat Islam Indonesia diminta meningkatkan kewaspadaannya (dikutip dari Majalah AULA no I/Tahun XVII/Januari 1996 halaman 23).
Jadi, sebenarnya sejak awal pendiri NU berpandangan bahwa paham Syi’ah telah melakukan penodaan agama. Bahkan jika mengamati butir-butir fatwa Syeikh Hasyim tersebut, penodaan Syi’ah itu telah melampau batas dan menukik jauh ke dalam keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah. Sehingga, sejak awalnya paham Syi’ah tidak diterima di kalangan NU.
Wacana-wacan NU untuk kembali ke khittah 1926 selayaknya tidak sekedar dimaknai bercerai dengan partai politik manapun, akan tetapi yang lebih terpenting lagi adalah khittah yang telah dibangun pendiri NU dilaksanakan saat ini oleh semua elemen warga NU. Yaitu khittah kembali kepada kitab Qanun Asasi.
Operasionalisasi khittah ini adalah membendung aliran sesat, seperti Syi’ah dan Ahmadiyyah. Khittah ini dapat dimaknai sebagai khittah untuk menjaga kemurnian akidah Ahlussunnah wal Jama’ah, bersih dari berbagai aliran-aliran sempalan yang menodai agama Islam. Karena berdirinya jam’iyyah NU adalah untuk menyebarkan paham yang benar tentang Ahlussunnah wal Jama’ah. Memang sudah semestinya, NU bersikap tegas terhadap aliran Syi’ah. Wallahu a’lam.
Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Institut Studi Islam (ISID) Gontor Ponorogo Jurusan Ilmu Akidah
Red : Tommy

Abu lolo tomb-01AntiLiberalNews – Bagi orang Syiah, pembunuhan ‘Umar bin Khattab radhiyaLLAHu’anhu adalah sebuah peristiwa kemenangan. Hal ini terbukti dari kemewahan makam Abu Lu’lu’ah al-Majusi la’natullah ‘alaih yang terdapat di kota Kashan, Isfahan, Iran.
Validitas kompleks makam itu sebagai makam Abu Lu’lu’ah al-Majusi sebenarnya diragukan, karena menurut riwayat shahih, Abu Lu’lu’ah al-Majusi tewas bunuh diri setelah dia menikam ‘Umar r.a. Adalah hal yang musykil (sulit terjadi) bahwa mayat Abu Lu’lu’ah dibawa oleh seseorang dari Madinah ke Kashan, Isfahan. Wallahua’lam.
Makam yang diklaim sebagai makam Abu Lu’lu’ah itu, disebut-sebut oleh kaum Syiah sebagai tempat yang harus dikunjungi. Makam ini dianggap sebagai peringatan kemenangan mereka atas terbunuhnya Amirul Mu’minin ‘Umar bin Khattab radhiyaLLAHu’anhu. Na’uudzubiLLAHi min dzaalik.
Sebagaimana tercatat dalam blog Historical Iran, Abu Lu’lu’ah al Majusi, atau yang oleh orang Syiah dijuluki sebagai Pirooz Nahavandi, dianggap sebagai “pahlawan nasional” oleh banyak orang Iran. Nama “Pirooz” sendiri diambil dari bahasa Persi “Fairuz” yang artinya “penuh kemenangan”.
Kompleks makam si penjahat Abu Lu’lu’ah al Majusi terletak di sebuah jalan antara Kashan dan Fin, dibangun pada abad ke-11 M. Kompleks makam ini dibangun dengan gaya arsitektur Persia-Kwarezmi.
Makam ini dilengkapi dengan halaman luas untuk bersantai para peziarah (courtyard) , beranda, serta kubah berbentuk kerucut yang megah dan berornamen. Tak hanya itu, kubah ini berhiaskan dengan ornamen keramik berwarna biru turquoise. Langit-langit bagian dalam kubah pun dilukis.
Pada abad ke-14 M, kompleks makam ini dipugar kembali dan sebuah nisan diletakkan di atas kuburannya.
Demikianlah aqidah Syiah. Bagi muslim, terbunuhnya seorang sahabat radhiyaLLAHu’anhu merupakan musibah yang sangat besar. Terlebih apabila yang wafat adalah ‘Umar bin Khattab radhiyaLLAHu’anhu, Amirul Mu’minin yang dijuluki al-Faruq. Beliau yang telah dijamin surga, serta dipuji oleh Rasulullah shallallahu’alayhi wassalam.
Tetapi bagi kaum Syiah, wafatnya Amirul Mu’minin ‘Umar bin Khattab radhiyaLLAHu’anhu adalah sebuah kemenangan. Dan mereka memperingatinya dengan kemewahan makam si pembunuh, Abu Lu’lu’ah al Majusi. Na’uudzubiLLAHi min dzaalik.
Allah Ta’ala berfirman (artinya): “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. (QS. Al-Ahzab [33]: 57-58).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Jangan kalian mencela sahabatku, seandainya salah seorang di antara kalian menginfaqkan emas sebesar Gunung Uhud maka tidaklah menyamai satu mud mereka atau setengahnya.” (HR. Bukhari: 3470 dan Muslim: 2540).
Baca artikel  selengkapnya di HARI KARBALA tafhadol
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda:
من سب أصحابي ، فعليه لعنة الله و الملائكة و الناس أجمعين
yang artinya: “Siapa yang mencela sahabatku, atasnya laknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya.” (HR. Thabarani dalam Mu’jamul Kabir 12/142, dihasankan oleh al-Albani dalam Silsilah Ahadits ash-Shahihah: 2340).
Wallahua’lam.
Dikutip dari berbagai sumber
Red: Beta Ismawan.

Prosesi pemakaman Eko Mardi Santoso, korban kerusuhan Puger, di TPU Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Kamis (12/9/2013) foto:beritajatimAntiLiberalNews – Seorang warga Nahdlatul Ulama tewas, dua masjid dirusak serta puluhan perahu dan rumah warga hancur akibat bentrokan antara warga dengan penganut Syiah di Jember, Jawa Timur.
Bentrokan yang terjadi Rabu siang (11/9/2013), terjadi di Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, Jawa Timur, mewaskan satu orang warga bernama Eko Mardi Santoso. Eko menjadi korban pembacokan dan mengalami luka parah di kepala dan wajah. Ia meninggal dunia pukul 17.25 di RS Daerah Balung.
Diketahui Eko adalah keponakan sekaligus santri Ustad Fauzi, seorang tokoh NU setempat, yang pada pertengahan tahun lalu menjadi korban sabetan senjata tajam saat beberapa pengikut Syiah mendatangi rumah Ustad Fauzi.

Baca artikel  selengkapnya di HARI KARBALA tafhadol
Menurut penuturan Pengurus MWC NU Puger Ustad Agus Mudhofir, korban tewas setelah dihantam batu hingga roboh oleh puluhan pemuda. Setelah roboh, korban dibacok hingga tewas.
“Saat itu, Eko sedang mencari pelaku pembakaran perahu milik Haji Atim yang dibakar,” ujar Ustadz Mudhofir kepada Kiblatnet melalui sambungan telepon, Rabu (11/9).
Ustadz Mudhofir menceritakan lebih lanjut bahwa bentrok di Puger bermula dari pendukung Ali bin Umar Al-Habsyi yang menganut Syiah ingin mengadakan kegiatan karnaval 17 Agustus di wilayah Puger.
Namun, pihak warga menyatakan keberatan atas kegiatan tersebut. Sebab, mayoritas warga Puger berpegang pada Fatwa MUI Jawa Timur dan Pergub Jatim yang melarang adanya kegiatan aliran Syiah di wilayah Jawa Timur.
Rupanya, pihak pendukung Habib Ali tetap ngotot memaksakan kehendak mereka. Mengantisipasi hal ini, pihak kepolisian telah melakukan upaya pengamanan dengan membuat barikade agar karnaval dibatalkan.
Tak peduli dengan keinginan warga, acara karnaval tetap dilanjutkan oleh para penganut Syiah itu sejak usai dzuhur. Bahkan, mereka menjebol barikade yang dibuat oleh polisi. Melihat situasi tersebut warga Puger tersulut emosinya hingga melakukan perlawanan.
Menurut pemantauan Ustad Agus Mudhofir di lapangan, kericuhan telah pecah sejak pukul 14.00 siang, puluhan perahu serta rumah warga dan dua masjid di wilayah itu menjadi sasaran kericuhan dua massa yang bentrok.
Bentrokan antara pihak warga dengan penganut Syiah sebelumnya pernah terjadi pada Mei 2012. “Namun, saat itu tingkat kerusuhan dan kerusakannya tidak separah saat ini,” tutur Ustadz Mudhofir.
Red : Randy

spanduk anti syiah di jemberAntiLiberalNews – Satu orang terbunuh dan dua masjid dirusak serta puluhan perahu dan rumah warga hancur akibat bentrokan antara warga dengan penganut syiah di Jember, Jawa Timur.
Bentrokan yang terjadi Rabu siang (11/09) ini, terjadi di Puger kulon, Kecamatan Puger, Jember menewaskan satu orang warga bernama Eko Mardiyanto.
Menurut penuturan Ustadz Agus Mudhofir dari MWC NU Puger, korban tewas sekira pukul 15.30 sore ini setelah dihantam batu hingga roboh oleh puluhan pemuda. Setelah roboh, korban dibacok hingga tewas.
“Saat itu, Eko sedang mencari pelaku pembakaran perahu milik Haji Atim yang dibakar,” ujar Ustadz Mudhofir  seperti dikutip dari kantor berita Kiblat (11/09/2013).
Ustadz Mudhofir menceritakan lebih lanjut bahwa bentrok di Puger bermula dari pendukung Habib Ali bin Umar Al-Habsyi yang menganut syiah ingin mengadakan kegiatan karnaval 17 Agustus di wilayah Puger.

Baca artikel  selengkapnya di HARI KARBALA tafhadol
Namun, pihak warga menyatakan keberatan atas kegiatan tersebut. Sebab, mayoritas warga Puger berpegang pada Fatwa MUI Jawa Timur dan Pergub Jatim yang melarang adanya kegiatan aliran syiah di wilayah Jawa Timur.
Rupanya, pihak pendukung Habib Ali tetap ngotot memaksakan kehendak mereka. Mengantisipasi hal ini, pihak kepolisian telah melakukan upaya pengamanan dengan membuat barikade agar karnaval dibatalkan.
Tak peduli dengan keinginan warga, acara karnaval tetap dilanjutkan oleh para penganut syiah itu sejak ba’da dzuhur. Bahkan, mereka menjebol barikade yang dibuat oleh polisi. Melihat situasi tersebut warga Puger tersulut emosinya hingga melakukan perlawanan.
Menurut pemantauan Ustadz Agus Mudhofir di lapangan, kericuhan telah pecah sejak pukul 14.00 siang tadi, puluhan perahu serta rumah warga dan dua masjid di wilayah itu menjadi sasaran kericuhan dua massa yang bentrok.
Hingga saat ini situasi di Puger masih memanas, terutama akibat jatuhnya korban di pihak warga.
“Suasananya masih mencekam, saat ini saya berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk meredam situasi,” ujar Ustadz Mudhofir.
Bentrokan antara pihak warga dengan penganut syiah sebelumnya pernah terjadi pada Mei 2012. “Namun, saat itu tingkat kerusuhan dan kerusakannya tidak separah saat ini,” tutur Ustadz Mudhofir.
Red : Randy
banner yusuf
DUA tahun setelah tragedi WTC 11 September 2001, saya diundang sebuah organisasi mahasiswa Islam untuk memperingati sekaligus merefleksikan makna di balik kejadian itu. Saya panel dengan seorang intelektual dari organisasi itu, yang terang-terangkan dikenal mengaji di Rausyan Fikr. Organisasi berjubah intelektual di Yogyakarta yang giat mengkaji filsafat dan politik Islam ini di kemudian hari melebur dan mengubah nama menjadi Ikatan Jamaah Ahlubait Indonesia (IJABI)—cabang resmi Syiah di tanah air kita.
Sekadar mengutip Khomeini atau Syariati diselingi tokoh filsafat Inggris, Prancis ataupun Jerman, sudah biasa dilakukan aktivis organisasi mahasiswa itu. Tapi, mereka melakukannya sekadar hasil refleksi bacaan. Secara keyakinan dan iman, saya tahu mereka belum tentu menerimanya, termasuk Syiah. Nah, lain halnya dengan kawan panelis saya; dia betul-betul tampil kaaffah menyitir dan mewakili pikiran para ulama dan.atau intelektual Syiah. Rumor bahwa yang bersangkutan seorang Syiah sudah lama saya dengar dari teman-teman di UGM.
Bisa dibedakan antara pengkaji yang ‘genit’ bermain mata dengan teks Syiah dengan pengkaji yang memang dari internal Syiah. Sepintas sama-sama militan, terlebih di usia muda maka kawan sepanel tadi begitu menggebu menyampaikan gagasan banyak tokoh terkemuka Syiah di forum untuk menilik dan menuding Al-Qaeda selaku ‘tersangka’ kejadian WTC. Termasuk juga mengupasi ‘wahabi’ dari sudut pandang pemikir Syiah. Bagi pengkaji, kedalaman filosofis gagasan pemuka Syiah biasanya kurang terasa; lain halnya bagi yang sudah menjadi bagian dari Syiah, mereka akan bisa merasakan getaran yang dituliskan Syariati, Muthahari, ataupun yang lainnya.

Baca artikel  selengkapnya di HARI KARBALA tafhadol
Sayangnya, terkadang militansi untuk mengekspresikan kesyiahan itu tampak berlebihan dan tidak adil. Mungkin karena saat itu kawan diskusi masih kader muda hingga pemurnian pemikiran Syiah terasa ingin dijaga. Tidak ada satu pun kutipan dari tokoh Sunni. Semua ucapannya mengutip kalangan Syiah atau filosof di luar Islam. Saya yakin, dia bukan tidak paham para filosof Muslim klasik Sunni macam Ibnu Rusyd, atau pemikir semacam Muhammad Abduh dan Naquib al-Attas. Dari mereka bukan tidak ada catatan seputar radikalisme sebagian umat Islam. Pertanyaannya, mengapa yang dipakai untuk menyigi kejadian kadang dipaksakan ari bukan-Islam meski soal tersebut acap dibahas pemikir Muslim (Sunni)?
Menghadapi agresivitas kawan panel tadi, saya harus bertaktik. Alhamdulillah, Allah menguatkan niat saya agar kawan tadi tidak menguasai forum dan mencaci ‘wahabi’ dan Sunni kendati secara tersirat sekalipun. Memojokkan kenaifan umat Islam dengan tilikan tokoh Syiah jelas sebuah penghinaan tersendiri dan ini tidak bisa didiamkan. Seakan-akan lain halnya respons umat Syiah saat diserang Barat (baca: Amerika dan Eropa) yang memilih elegan alih-alih kekerasan ala Al-Qaeda.
Maka, setiap dia pamer kutipan—dan di forum itu sang kawan persis seperti buku berjalan ‘quote’ pemuka Syiah—saya menutupi dengan tokoh Sunni. Karena daras saya banyak bersentuhan dengan para pemikir Ikhwan, saya cukupkan dengan jujur dari harakah ini. Tentu saja ini bukan berarti saya menutup kehebatan pemikir dan/atau tokoh di luar Ikhwan.
Ketika kawan tadi menggiring forum untuk militan dengan perspektif Khomeini, saya perlunak dengan Hasan al-Banna. Saat dia menggebu bak cendekiawan Syariati, saya tahu dia ingin menampilkan wajah ‘kelebihan Syiah’ andai diposisikan senasib negara Arab (Sunni), dan di sini saya cukup sodorkan analisis Sayyid Quthb. Jangan sampai kesan di forum martir dalam revolusi hanya sosok semacam Syariati; bahkan Sayyid Quthb mengatasi semua ‘derita’ yang dialami Syariati akibat tertelikung faksi mullah dalam revolusi.
Untuk mendapatkan simpati forum, bahwa Syiah penuh keteduhan, sang kawan memperlihatkan kerangkan berpikir Murthada Muthahhari. Saya baca beberapa karya sang mullah, dan saya terlintas saja mengajukan nama Said Hawwa yang bernas ulasannya soal serupa meski dari sisi filosofis tidak semenguasai Muthahhari dalam mengkritik peradaban Barat. Tapi, Said Hawwa adalah wakil kejujuran dan berotoritas jelaskan kerja-kerja hati. Dalam soal ini, saya masih melihat Hawwa lebih meneduhkan dari bahasan serupa tokoh yang digadang-gadang sang kawan.
‘Perang kutipan’ di forum sengaja saya lakukan untuk meladeni agar forum tidak menjadi langit yang bertaburan bintang tokoh Syiah. Meski saya sekadar tamu dari forum itu, rasanya saya tidak bisa menjaga marwah Islam manakala peserta yang banyak kalangan aktivis Islam lebih mengenal Khomeini, Syariati, Muthahhari, ketimbang tokoh lain dari jantung Sunni. Jangan sampai keinginan kawan Syiah untuk mengunggulkan kelompoknya dan ‘teror’ kutipan membuat forum terkesima; pun demikian dengan para panelis.
Berbekal ilmu ‘ala kadar’ tapi berniat agar Islam tidak ditertawakan pendukung Syiah, setiap ikhtiar kita insya Allah ditolong Allah. Dalam kejadian di atas, saya tidak menyiapkan taktik ketika berhadapan dengan kawan cerdas tadi yang saat debat Pemilihan Presiden 2014 lalu itu jadi moderator. Di tengah jalan, saya seperti mendapat ilham sebuah taktik lawan diskusi dan bagaimana menangkalnya. Dari situ saya paham, berhadapan dengan aktivis Syiah jangan hanya bermodalkan keyakinan keislaman kita; kita juga butuh ilmu, keberanian, dan doa kepada Allah disertai kerendahan hati. Mengapa? Syiah sering bermain dengan alat retorika, kuatnya bacaan filsafat, dan isu akhlak.
Teringat saya dengan kejadian di Kota Pelajar saat seorang akhwat mencela Syiah lalu dengan gagah berani menantang kawan Syiahnya (seorang pria). Debat keduanya bertaruhkan tidak main-main: yang kalah akan ikut keyakinan pemenang. Militansi tanpa paham medan dan senjata itu berbuah pahit bagi teman-teman si akhwat; dia kalah debat dan akhirnya bersedia ikut bahkan mau dinikahi kader Syiah tersebut. Sebuah pelajaran berharga untuk tidak bergegas latah. []
Back To Top